Jembatan Ponton Di Paiker Kini sudah berdiri megah

 

EMPAT LAWANG – Berkat perjuangan bupati Empat Lawang Joncik Muhammad dan Yulius Maulana sebagai wakil bupati melalui dana pusat (APBN) jembatan Ponton yang sebelumnya roboh diterjang banjir bandang kini berdiri megah dan sudah dimanfaatkan masyarakat walaupun belum diresmikan.

Jembatan Ponton terakhir diperbaiki dan bangun oleh Kaprawi Rahim bupati Lahat. Diera tahun 80-an kebawah, sebelum ada jalan aspal dan jembatan permanen masyarakat memanfaatkan sungai Ayik Kegho sebagai jalan utama transportasi untuk keluar masuk desa, alat transport pada saat itu berupa perahu yang kenal dengan nama kitek yang bisa memuat sebanyak 6-8 orang penumpang beserta barang bawaan.

Ponton sendiri, diambil dari nama alat yang menyeberangkan orang maupun barang keluar masuk Paiker melalui sungai Ayik Musi. Pelabuhan utama wara-wiri orang menggunakan kitek ada di desa Talang Bindu.

Setiap hari didesa ini berjejer kitek yang tidak hanya berisi penumpang tapi hasil bumi yang ingin mereka bawah keluar desa untuk dijual, khususnya biji kopi dan belanja kebutuhan sehari-hari. Tidak heran disepanjang desa Padang Bindu bejejer orang berjualan.

Kitek dibuat oleh ahlinya, asli orang Paiker dengan memanfaatkan kayu yang tahan air. Pada saat itu debit air sungai Ayik Kegho masih bisa dilalui oleh kitek, tidak seperti sekarang ini air sudah dangkal.

Fauzan Sodry orang asli desa Ayik Mayan masih ingat dikala kecil sering diajak orang tua ke desa Padang Bindu untuk belanja dan makan disekitar pelabuhan dengan menu ikan baung sungai.

Hermanto penjabat kepala desa Padang Gelai mencerita Mamin salah satu warga Paiker yang ahli membuat kitek. Lanjut Hermanto yang juga berkerja di kantor camat Paiker, “waktu itu kendaraan roda empat sebagai alat pengangkut sudah ada tapi waktu yang ditempuh dari Paiker ke Padang Tepong minimal 2 jam, mobil yang beroperasional saat itu mobil merk cevrolet buatan Amerika, jalannya masih berupa tanah kuning dan berlumpur dengan kondisi jalan lebih tinggi dari lahan pertanian.” Cerita mereka, begitu melompat dari pinggir jalan langsung naik ke mobil, apalagi mobil bak terbuka.

Seiring dengan semakin baiknya infrastruktur jalan dan dangkalnya debit air sungai Ayik Kegho transportasi darat menjadi andalan dan cerita tentang kitek tinggal kenangan.

Pelabuhan kitek yang sekarang dulu nya di belakang bengkel mobil.Ranto sudah berubah jadi pemukiman penduduk.

Noperman Subhi berharap untuk mengingat dan membangkitkan kenangan cerita kitek dapat dibuat festival kitek dengan berbagai lomba dengan memanfaatkan potensi sungai Ayik Kegho pada moment tertentu, Rabu (29/09) . (Tom)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *