Joncik Muhammad : Kesantunan Berkampanye Patut Mendapat Perhatian Peserta Pemilu

EMPAT LAWANG – Munculnya Saya Milenial Golput (SMG) di tengah masa kampanye yang akan berakhir pada tanggal 13 April 2019 mendapat perhatian dari Politikus PAN Sumatera Selatan yang juga saat ini menjabat sebagai Bupati Empat Lawang,H. Joncik Muhammad,S.Si,SH,MM,MH.

H. Joncik Muhammad,S.Si,SH,MM,MH menilai generasi milenial saat ini tengah memainkan politik pasif sebagai upaya menekan partai politik dan pasangan calon peserta Pilpres 2019 memberikan pendidikan politik substansial dalam pemilu.
Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI), misalnya, telah melakukan pelbagai upaya, antara lain merevisi sejumlah peraturan KPU dan membentuk relawan demokrasi pemilu serentak di setiap KPU/Komisi Independen Pemilihan (KIP) kabupaten/kota.
Penyandang disabilitas juga menjadi sasaran sosialisasi pemilu. Hal ini termaktub di dalam PKPU Nomor 10 Tahun 2018 tentang Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemilihan Umum Pasal 5 Ayat (1) Huruf a.

Narapidana juga tidak luput dari perhatian KPU. Mereka termasuk basis pemilih berkebutuhan khusus. Kelompok ini juga mencakup masyarakat di wilayah perbatasan atau terpencil, pasien dan pekerja rumah sakit, pekerja tambang lepas pantai, perkebunan, dan kelompok lain yang terpinggirkan.
Mereka memiliki hak hidup dan hak berparisipasi yang sama dengan warga negara lainnya. Akan tetapi, situasi dan kondisi kehidupan membuat mereka dalam posisi yang tidak berdaya dan tidak memiliki motivasi berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik.

Mereka membutuhkan sosialisasi, motivasi, dan fasilitasi untuk dapat berpartisipasi sehingga secara sosial mereka tidak makin terbelakang. Contoh bentuk kegiatannya adalah sosialisasi dan pendidikan pemilih ke tengah masyarakat nelayan pinggiran, komunitas waria, LGBT, masyarakat miskin kota, pemulung, dan sebagainya.

Basis komunitas, seperti pencinta kuliner, keolahragaan, komunitas hobi, komunitas masyarakat Jawa, Minang, Bugis, Dayak, Papua, dan komunitas lainnya juga mendapatkan sosialisasi dan pendidikan pemilih.

Relawan demokrasi selaku mitra KPU dalam menjalankan agenda sosialisasi dan pendidikan pemilih berbasis kabupaten/kota juga akan melakukan kegiatan tersebut kepada jamaah shalat Jumat, jemaat gereja, pura, wihara, dan kelenteng.

Diskursus politik, demokrasi, dan pemilu di dunia maya harus mampu diimbangi melalui status, kicauan dan komentar-komentar yang segar, elegan, cerdas, dan mendidik.

Di sinilah,peran relawan demokrasi dari kalangan warganet.

Materi kampanye yang disampaikan peserta pemilu seyogianya secara santun, kontennya tidak provokatif dan tidak perlu saling menjatuhkan.

“Lebih baik menyampaikan keunggulan masing-masing,” kata H. Joncik Muhammad,S.Si,SH,MM,MH.

H. Joncik Muhammad,S.Si,SH,MM,MH lantas mencontohkan iklan merek sepeda motor, antara lain, berbunyi “lebih baik naik Vespa”, “Yamaha nomor satu di dunia”, “Honda lebih unggul”, dan “Suzuki inovasi tiada henti”.

Dalam pesan iklan tersebut, masing-masing merek kendaraan saling menyampaikan keunggulannya, tanpa menjatuhkan merek lain pesaingnya.

Kampanye dengan cara menjelek-jelekkan lawan politik, apalagi dengan menyebarkan hoaks, bakal menimbulkan persepsi negatif calon pemilih terhadap peserta Pemilu 2019.

Berita bohong, menurut H. Joncik Muhammad,S.Si,SH,MM,MH, justru merugikan peserta pemilu karena calon pemilih sekarang ini cerdas, terlebih bila hoaks ini terkait dengan pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu.

“Kedepan hal semacam itu dihindari dan diganti rencana program yang dapat dikerjakan dengan mudah (feasible) sekaligus “applicable”(berlaku) ungkapnya.(Red)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *