
Sumber Foto : Google Pemerintah Kabupaten Ponorogo
Reporter : Afri Dwi Firdinanda Editor : mgw
Tradisi Labuh Sesaji merupakan upacara adat Jawa Timur yang waktunya tahunan diselenggarakan di Telaga Sarangan. Tradisi ini diadakan pada bulan Ruwah, hari Jum’at Pon yang bertujuan sebagai ucapan terima kasih dari masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Masyarakat Jawa Timur beranggapan Telaga Sarangan merupakan hadiah dari Tuhan. Telaga tersebut dianggap mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat Magetan khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Larung sesaji adalah sebuah tradisi upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur yang berada di daerah pesisir pantai utara dan pantai selatan. Upacara adat Larung sesaji berbeda dengan upacara adat Labuh sesaji.
Daun Sirih Cina Bisa Menghilangkan Jerawat Ini Penjelasannya ( klik disini )
Dilangsir dari Beritabaru.co Upacara ini dapat dilakukan dengan cara menghanyutkan sesajen ke laut dalam rangka sebagai tanda rasa syukur dari hasil tangkapan ikan selama mereka melaut. Upacara larung sesaji ini umumnya dilaksanakan pada tanggal 1 muharram atau satu suro.
Pada zaman dulu, Larung Sesaji merupakan ritual sederhana yang terdiri dari selamatan yang diiringi sesaji.
Hingga kini, Larung Sesaji merupakan ritual yang ditunggu-tunggu masyarakat setempat.
Beberapa daerah memiliki ritual yang berbeda dalam merayakan Larung Sesaji. Berikut perbedaannya:
1. Jember
Dalam acara tulisan Perubahan Tradisi Larung Sesaji di Pantai Pancer Plawangan Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember Ines Syilvi Firda Rahmawati disebutkan dalam upacara selamatan dibacakan doa agama Islam, yaitu Yasin dan Tahlil. Selanjutnya, sesaji dibuang ke laut sebagai persembahan Ratu Laut Selatan.
2.Magetan
Di Magetan, rombongan pengirin tumpeng sebagai rangkaian tradisi terdiri dari pasukan berkuda, cucuk lampah, demang sarangan (bapak dan ibu lurah), Bonang Renteng, tumpeng, dan rombongan reog. Dari dulu, semua unsur tersebut merupakan tradisi Larung Sesaji di Magetan.
3. Gunung Kelud, Blitar
Ritual dipimpin Juru Kunci Gunung Kelud dengan doa bersama dan selamatan di sekitar tanah lapang dekat Gunung Kelud.
4. Pati
Ritual dilakukan dengan pembacaan doa, pelarungan dan makan bersama di atas kapal. Pelarungan berupa sesaji berwujud miniatur kapal nelayan yang mengangkut sesaji diantaranya kepala kambing, pisang raja, ketupat dan lepet.
Sesaji ini diarak menuju laut yang di gunakan sebagai syarat untuk menolak bala serta di iringi dengan kesenian barongan dan acara dimeriahkan dengan karnaval maupun pementasan kesenian tradisional.
















Tinggalkan Balasan